Rabu, 25 September 2013

Warga Setempat Mengenalnya dengan Panggilan Ibu Perbu

Menelusuri Jejak Dakwah Islam Cut Nyak Dien di Sumedang (1)

Perang Aceh yang berlangsung dari tahun 1873 hingga 1904 menjadikan pemerintah kolonial Belanda benar-benar prustasi. Kehebatan perlawanan rakyat Aceh melawan Belanda yang luar biasa itu ditandai dengan mati terbunuhnya jenderal Johan Harmen Rudolf Kohler yang terkenal disebut Jenderal Kohrer.

Erik A Kurnia/Sumedang

Read More......

Kendati Penglihatannya Buta Cut Nyak Dien Terus Berdakwah

Rumah Cut Nyak Dien
Menelusuri Jejak Dakwah Islam Cut Nyak Dien di Sumedang (Bagian 2)

Pahlawan sejati berjuang tidak dibatasi ruang dan waktu. Pun ia berada jauh dari tanah kelahirannya, ia akan terus mencurahkan segala kemampuannya untuk kemaslahatan umat manusia. Begitu juga dengan pahlawan perempuan asal Aceh, Cut Nyak Dien, kendati ia dibuang dan diasingkan ke Tanah Pasundan (Sumedang) tidak membuatnya berdiam diri. Sebaliknya di pembuangannya itu Cut Nyak Dien masih bisa berdakwah. 

Erik A Kurnia/Sumedang

Read More......

Berharap 7 November Sudah Disahkan

Pengusulan Pangeran Mekah Jadi Pahlawan Nasional

KETUA Museum Prabu Geusan Ulun, Rd. Achmad Wiriaatmadja mengatakan pengusulan Bupati Sumedang Pangeran Aria Suria Atmaja atau Pangeran Mekah sebagai pahlawan nasional hingga saat ini terus bergulir. “Hingga saat ini masih terus bergulir dan masih proses di tingkat pusat,” kata sosok yang akrab disapa Aom Achmad ini dalam sebuah kesempatan baru-baru ini di Bandung.
Aom mengungkapkan syarat-syarat pengusulan gelar pahlawan nasional untuk Pangeran Mekah sampai saat ini sudah masuk Tim Dua Puluh dan Tim Tujuh. “Kami akan menunggu hingga November nanti yang diperkirakan pengusulan gelar pahlawan sudah sampai di meja Presiden SBY,” jelas Aom lagi.

Read More......

Rabu, 03 April 2013

Sumedang Merentas Zaman

Kabupaten Sumedang memiliki catatan riwayat sejarah yang cukup panjang. Menurut beberapa sumber yang ada menyebutkan Sumedang dulunya merupakan sebuah kerajaan yakni Kerajaan Sumedang Larang yang diperkirakan sudah berdiri pada abad ke-15.
Berbicara kerjaan Sunda, Sumedang Larang tidak bisa lepas dari Kerajaan Pajajaran yang erat hubungannya dengan Kerajaan Sunda-Galuh (Ciamis). Di titik nadir akhir riwayat Pajajaran yang runtuh di Pakuan, Bogor oleh serangan pasukan gabungan kerajaan Islam (Cirebon, Banten dan Demak), diikuti dengan berpindahkan mahkota kerajaan Pajajaran (Binokasih) kepada Sumedang Larang. Sejak saat itulah Sumedang Larang dianggap sebagai pengganti Pajajaran.

Read More......

Nina Lubis: Srimanganti Jangan Direnovasi

Terkait sudah dimulainya pembangunan kompleks pusat pemerintahan kabupaten Sumedang adau Rencana Induk Pusat Pemerintahan (RIPP) dan rencana menjadikan bekas kantor pemkab Sumedang dan Gedung Negara sebagai museum budaya Sunda disambut baik oleh sejarawan Unpad, Nina Herlina Lubis. Menurut Nina rencana menjadikan museum budaya Sunda itu akan melengkapi Sri Manganti sebagai museum.
“Gedung Negara baik juga kalau mau dijadikan museum menambah luas Sri Manganti yang sekarang memang sdh menjadi museum,” terangnya kepada Radar Sumedang kemarin. Dari pandangan sejarawan yang banyak menulis biografi inohong Sunda ini memperingatkan agar rencana pemkab Sumedang yang berencana akan merenovasi Museum Geusan Ulun.

Read More......

Riwayat Kesenian Ritus Tani Tarawangsa

Awalnya Dibawa Berkelana Mencari Bibit Padi ke Mataram


Seni Tarawangsa yang tidak bisa lepas dari upacara adat Ngalaksa merupakan kegiatan tahunan yang dikaitkan dengan kegiatan bersawah. Ngalaksa dan tarawangsa dimaksudkan menghormati leluhur yang telah berhasil mencari dan mempertahankan bibit padi.

Oleh: Erik A Kurnia

Pada tanggal 12 Juni mendatang Disbudparpora dipercayai Pemprov Jawa Barat untuk mementaskan kesenian klasik Sunda asal Rancakalong Tarawangsa di anjungan Jawa Barat TMII DKI Jakarta. Dalam kemasan acara Hentak, Rentak, Gema Tarawangsa itu selain menampilkan pentas seni tarawangsa aslinya, juga akan ditampilkan riwayat lahirnya kesenian tersebut lewat drama tari.

Read More......

Menelisik ‘Poyok Ungkal’ sebagai Kekayaan Tradisi Sunda (Bagian 2)

Kalah dengan Bahasa Prokem, Poyok Ungkal di Ambang Kepunahan

Roda waktu berganti, beberapa abad berselang sampai sekarang poyok Ungkal itu masih hidup dan lestari di tengah-tengah masyarakat Ungkal sebagai tradisi tutur khas desa itu. Meski memang terbatas pada kalangan tertentu saja, lantaran perkembangan zaman poyok ungkal kalah pamor dengan bahasa prokem.

Read More......